Napiter Perempuan di Medan Kembali ke Pangkuan NKRI

MEDAN – Upaya pembinaan di balik jeruji membuahkan hasil manis. Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Medan berhasil mengantarkan satu narapidana terorisme (Napiter) kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, Rabu (21/10).

Napiter bernama Herna Alda Sunrita itu dengan lantang mengucapkan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan mata berkaca-kaca, ia mencium Bendera Merah Putih sebagai simbol kecintaan yang tulus kepada bangsa dan negara.

Prosesi ikrar digelar penuh khidmat, dihadiri langsung Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pemasyarakatan Sumut Jalu Yuswa Panjang, Kakanwil Kemenag Sumut H. Ahmad Qosbi, Kasubdit Deradikalisasi BNPT Kol (Mar) Wahyu Herawa, Plh. Kasatgaswil Sumut Densus 88 Anti Teror Polri Kombes Pol Guntur Andriyanto, Kajari Medan Ridwan Sujana Angsar, Danramil 0201-06/Medan Sunggal Kapten Arm Yani Darma Putra, serta jajaran Lapas Tanjung Gusta.

Pembinaan Sentuh Hati, Bukan Sekadar Hukuman

Rangkaian acara diawali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang menggema di aula Lapas. Herna kemudian membacakan ikrar dengan suara tegas, menandatanganinya sebagai bukti kesetiaan, dilanjutkan pembacaan Pancasila dan penghormatan serta penciuman Sang Saka Merah Putih.

Kepala Kanwil Ditjenpas Sumut, Jalu Yuswa Panjang memberikan apresiasi mendalam atas perubahan sikap tersebut. Ia menilai ikrar ini bukan seremonial belaka, melainkan bukti nyata keberhasilan deradikalisasi.

“Ikrar ini menjadi bukti nyata bahwa program deradikalisasi, pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian yang dilaksanakan di Lapas Perempuan Kelas IIA Medan telah berjalan dengan baik, menyentuh hati, dan membawa perubahan positif,” harap Jalu.

Pernyataan Jalu diamini Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Medan Yekti Apriyanti. Menurutnya, selama menjalani pembinaan, Herna menunjukkan sikap yang sangat baik dan kooperatif.

“Napiter mampu dan bersedia mengikuti seluruh kegiatan pembinaan yang diselenggarakan Lapas dengan baik, di antaranya salat berjamaah, kegiatan pembinaan kemandirian, dan upacara kesadaran berbangsa secara rutin,” terangnya.

Yekti menambahkan, keberhasilan ini tak lepas dari kolaborasi apik bersama mitra strategis, yakni BNPT dan Densus 88 Polda Sumut. Momentum ini sekaligus menegaskan peran Lapas bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi menjadi garda depan memutus rantai paham radikal dan mencetak duta-duta perdamaian saat kembali ke masyarakat.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *