Jakarta — Badan Gizi Nasional (BGN) memperkuat sistem pengawasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui peluncuran aplikasi Reviu MBG, sebuah inovasi digital yang memungkinkan penilaian kualitas makanan dilakukan langsung oleh penerima manfaat di lapangan.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Sony Sonjaya mengatakan aplikasi tersebut dirancang untuk meningkatkan perhatian dan kewaspadaan seluruh pelaksana Program MBG, mulai dari Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pengawas gizi, mitra penyelenggara, hingga penanggung jawab penerima manfaat (PIC) di sekolah, posyandu, dan pondok pesantren.
“Tujuan utamanya adalah meningkatkan awareness seluruh pelaksana di lapangan agar lebih sungguh-sungguh dalam memproduksi dan mendistribusikan MBG,” ujar Sony dalam peluncuran aplikasi Reviu MBG, Minggu (22/6).
Melalui aplikasi tersebut, PIC yang ditunjuk baik guru sekolah, kepala posyandu, maupun ustaz di pondok pesantren dapat melakukan penilaian secara langsung saat makanan diterima.
Terdapat empat parameter utama yang menjadi indikator penilaian dalam aplikasi Reviu MBG.
Parameter pertama adalah ketepatan waktu distribusi, untuk memastikan makanan diterima sesuai jadwal. Apabila terjadi keterlambatan, sistem akan mencatat durasi keterlambatan distribusi.
Parameter kedua adalah aroma makanan, guna memastikan makanan yang diterima berada dalam kondisi layak konsumsi.
Parameter ketiga adalah rasa makanan, yang menjadi bagian dari pengendalian mutu agar makanan yang diterima penerima manfaat tetap memenuhi standar kualitas.
Sementara parameter keempat adalah variasi menu, yang bertujuan memastikan keberagaman menu MBG sehingga tidak menimbulkan kejenuhan bagi penerima manfaat.
“Ketika makanan datang, langsung dinilai. Apakah tepat waktu, aromanya baik atau tidak, rasanya wajar atau tidak, kemudian menunya variatif atau tidak dibanding hari sebelumnya,” kata Sony.
Data penilaian tersebut akan menjadi bagian dari Key Performance Indicator (KPI) masing-masing SPPG. Evaluasi dilakukan secara berkala berdasarkan akumulasi hasil penilaian lapangan.
Sony menjelaskan pada tahap awal, sistem ini difokuskan untuk membangun kesadaran dan penguatan kualitas pelayanan.
“Tujuan pertama kami meningkatkan awareness dulu. Kalau awareness sudah meningkat, maka kualitas pelayanan akan ikut meningkat,” ujarnya.
Ke depan, BGN juga menyiapkan pengembangan dashboard yang dapat diakses publik sehingga masyarakat dapat melihat indikator pelaksanaan MBG secara lebih transparan.
“Insya Allah dua minggu ke depan masyarakat dapat melihat persentase keterlambatan distribusi, kualitas aroma makanan, dan indikator lainnya,” kata Sony.
Aplikasi Reviu MBG diharapkan menjadi bagian dari sistem pencegahan dini terhadap kejadian menonjol dalam Program MBG, sekaligus memperkuat pengawasan berbasis partisipasi penerima manfaat.
Melalui penguatan sistem digital tersebut, BGN berharap pelaksanaan MBG semakin optimal dalam mendukung tumbuh kembang anak Indonesia agar tumbuh sehat, cerdas, dan ceria.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional
(Red)














